Ratusan santri Ponpes Manba’ul Hikam Putat harus mendapat perawatan medis. Sebanyak 427 santri telah dipulangkan, sementara 88 lainnya masih menjalani perawatan. BGN memastikan investigasi terus berjalan.
baratapersada.com
Sidoarjo// Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo mendadak menjadi sorotan setelah ratusan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program tersebut.
Total 516 santri menjadi korban dalam peristiwa yang kini tengah ditangani dan diinvestigasi pemerintah.
Hingga Rabu (2/9/2026) sore, sebanyak 427 santri telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis. Sedangkan 88 santri masih menjalani perawatan, dengan 34 pasien di antaranya dirawat di RS Siti Hajar.
Kondisi para santri yang masih menjalani perawatan dilaporkan mulai membaik. Mereka diperkirakan dapat segera dipulangkan ke pondok pesantren maupun kembali ke keluarga masing-masing setelah dinyatakan cukup sehat oleh tenaga medis.
Di tengah kabar membaiknya kondisi para santri, pemerintah mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah, dapur yang memasok makanan MBG kepada para santri.

SPPG Kalitengah Disuspend
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistiano Dardak mengungkapkan, penghentian sementara SPPG Kalitengah merupakan bagian dari prosedur operasional Badan Gizi Nasional (BGN).
Pernyataan tersebut disampaikan Emil ketika meninjau para santri yang menjalani perawatan di RSUD Notopuro Sidoarjo pada malam setelah kejadian.
“Suspend terhadap SPPG itu merupakan bagian dari SOP Badan Gizi Nasional,” kata Emil.
Menurut Emil, persoalan tersebut tidak boleh berhenti pada pemeriksaan sampel makanan semata. Pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh untuk menemukan penyebab utama kejadian.
Ia meminta BGN Jawa Timur dan Sidoarjo melakukan investigasi mulai dari bahan baku, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, hingga distribusi makanan.
“Investigasi tidak boleh berhenti hanya karena ditemukan bakteri dalam sampel makanan. Lebih penting lagi adalah menemukan akar permasalahannya,” tegasnya.
Emil juga memastikan biaya perawatan para santri yang menjadi korban ditanggung pemerintah.

Bupati-Wabup Sidoarjo Turun Langsung
Respons pemerintah daerah juga bergerak cepat.
Bupati Sidoarjo H. Subandi, SH, M.Kn bersama Wakil Bupati Hj. Mimik Idayana, S.A.P melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPPG Kalitengah.
Kunjungan tersebut turut diikuti Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing dan Koordinator BGN Regional Jawa Timur Bayu Wibowo.
Dalam sidak tersebut, Bupati Subandi mempertanyakan mekanisme penanganan dan evaluasi dapur MBG setelah ratusan santri mengalami gangguan kesehatan.
Menurut Subandi, evaluasi tidak boleh ditunda.
“Itu semua BGN yang bisa menjawab. Dan memang sangat penting untuk dilakukan evaluasi dan pembenahan agar tidak lagi terjadi kasus serupa,” ujarnya.
Subandi menegaskan, evaluasi dan pembenahan tata kelola SPPG merupakan kewenangan BGN.
Namun ia berharap persoalan yang terjadi di SPPG Kalitengah tidak sampai mengganggu keberlanjutan program MBG secara nasional.
“Jangan sampai program Presiden terganggu. Mari kita suport dan dukung program baik ini. Kalau pun ada tata kelola tidak baik ya harus dibenahi,” katanya.
Subandi: Tidak Ada Korban Meninggal
Di tengah kepanikan keluarga dan derasnya informasi yang beredar di media sosial, Bupati Sidoarjo memastikan seluruh santri yang mendapatkan perawatan telah tertangani.
Ia juga menegaskan tidak ada korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
“Kalau ada kabar ada yang meninggal itu hoaks. Semua santri yang keracunan tertangani dengan baik, dan tidak ada yang meninggal,” tegas Subandi.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan pemerintah agar masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
BGN: Penyebab Belum Bisa Dipastikan
Koordinator BGN Regional Jawa Timur Tegu Bayu Wibowo membenarkan bahwa SPPG Kalitengah telah disuspend.
“Pagi tadi surat suspend untuk SPPG itu telah diterbitkan,” ujarnya.
Menurut Bayu, investigasi masih berlangsung. Tim BGN pusat juga turun untuk mencari akar penyebab kejadian.
Hingga kini, BGN belum dapat memastikan apakah gangguan kesehatan para santri disebabkan bahan makanan atau faktor lain.

“Kami belum bisa memastikan penyebabnya, apakah dari bahan makanan atau faktor lainnya karena investigasi masih berlangsung,” jelasnya.
Bayu juga membantah informasi yang beredar di media sosial terkait dugaan adanya ulat atau belatung dalam makanan yang disajikan kepada para santri.
“Adanya informasi di media sosial bahwa makanan yang disajikan itu ada ulat atau belatung, itu tidak benar,” tegasnya.
Keselamatan Anak Tak Boleh Menjadi Taruhan
Peristiwa yang terjadi di Ponpes Manba’ul Hikam Putat tersebut menyisakan pekerjaan besar bagi pemerintah.
MBG merupakan program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok penerima manfaat. Karena itu, kualitas dan keamanan makanan menjadi fondasi utama yang tidak boleh diabaikan.
Bagi para orang tua, makanan yang diterima anak mereka bukan sekadar sebungkus nasi dan lauk. Ada kepercayaan yang dititipkan kepada pemerintah.

Ketika ratusan anak mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program pemerintah, pertanyaan masyarakat menjadi sangat sederhana: di mana letak pengawasannya dan apa yang sebenarnya terjadi?
Karena itu, investigasi tidak cukup hanya mencari siapa yang salah. Pemerintah perlu menemukan akar persoalan, memperbaiki sistem pengawasan, memperketat standar keamanan pangan, dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Program MBG harus tetap menjadi program yang menghadirkan harapan bagi masyarakat.
Tetapi harapan itu hanya akan tumbuh jika setiap makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar memenuhi standar bergizi, higienis, aman, dan layak dikonsumsi.
Sebab di balik satu kotak makanan MBG, ada seorang anak yang menunggu untuk tumbuh sehat.
Dan di belakang anak itu, ada orang tua yang menitipkan kepercayaan kepada negara.






