baratapersada.com
Sidoarjo// Di tengah kehidupan masyarakat yang tidak selalu berjalan mudah, terkadang yang paling dibutuhkan bukan sekadar janji, melainkan kepedulian yang benar-benar hadir dan dirasakan.
Semangat itulah yang kembali ditunjukkan Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo, Moch. H. Dhamroni Chudlori, M.Si. Begitu menerima laporan mengenai seorang warga kurang mampu yang sedang sakit, Dhamroni tidak memilih menunggu. Ia langsung turun ke lapangan untuk melihat kondisi warga secara langsung.
Warga tersebut adalah Siswanto, warga RT 05 RW 02, Desa Grinting, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.
Dengan langkah cepat yang selama ini dikenal dengan istilah “sat set wat wet”, Dhamroni mendatangi kediaman Siswanto. Kunjungan tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi bentuk nyata kepedulian sekaligus upaya untuk memastikan bahwa warga yang sedang menghadapi kesulitan tidak berjalan sendirian.
Dalam kunjungan tersebut, Dhamroni didampingi Camat Tulangan Andi Sulistiono, S.STP., M.Si., Kepala Desa Grinting Akhmad Sodirin beserta jajaran perangkat desa, kepala Puskesmas Desa Tulangan dr. Teguh Arief Dwiyanto, Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, Pendamping PKH Kecamatan Tulangan, serta SLRT Kecamatan Tulangan,TKSK kecamatan Tulangan.

Kehadiran mereka bersama-sama menjadi bukti bahwa persoalan masyarakat membutuhkan kepedulian dan sinergi banyak pihak. Ketika seorang warga sedang sakit dan berada dalam keterbatasan ekonomi, perhatian pemerintah dan wakil rakyat menjadi sangat berarti.
Bukan Sekadar Mendengar Keluhan
Dhamroni Chudlori mengatakan, setiap laporan masyarakat merupakan amanah yang harus ditindaklanjuti. Menurutnya, menjadi wakil rakyat bukan hanya hadir dalam ruang rapat atau menjalankan tugas kedewanan, tetapi juga harus mampu mendengar suara masyarakat dan turun langsung ketika ada warga yang membutuhkan.
“Setiap ada laporan dari masyarakat, sebisa mungkin kami tindak lanjuti dengan cepat. Kami ingin melihat langsung kondisi warga, mengetahui apa yang menjadi kebutuhannya, kemudian bersama-sama mencari solusi dengan pemerintah desa, kecamatan maupun dinas terkait,” ujar Dhamroni.
Ia menegaskan, masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan, terlebih warga kurang mampu yang sedang sakit, membutuhkan perhatian dan pendampingan.
“Jangan sampai ada masyarakat yang sedang mengalami kesulitan merasa sendirian. Kita harus hadir, kita dengarkan keluhannya dan kita upayakan solusi sesuai kewenangan yang ada,” imbuhnya.
Bagi Dhamroni, kepedulian tidak harus menunggu seseorang datang meminta bantuan. Ketika informasi mengenai warga yang membutuhkan telah diterima, langkah berikutnya adalah memastikan informasi tersebut benar dan melihat langsung kondisi di lapangan.

Kepala Desa: Warga Tidak Boleh Merasa Sendirian
Sementara itu, Kepala Desa Grinting Akhmad Sodirin menyampaikan apresiasi atas perhatian dan gerak cepat Dhamroni Chudlori dalam menindaklanjuti kondisi Siswanto.
Menurutnya, pemerintah desa akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya bagi warga yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian Pak Dhamroni. Begitu ada laporan warga yang membutuhkan, beliau langsung turun ke lapangan. Ini merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti bagi masyarakat,” ungkap Akhmad Sodirin.
Ia berharap koordinasi antara pemerintah desa, kecamatan, Dinas Sosial, pendamping PKH, SLRT dan DPRD dapat terus diperkuat.
Sebab, persoalan sosial di tengah masyarakat tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kebersamaan, kepedulian dan kecepatan dalam mengambil langkah.
Ketika Kepedulian Hadir di Tengah Kesulitan
Kunjungan Dhamroni kepada Siswanto mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga yang sedang berada dalam kondisi sulit, sebuah kunjungan, perhatian dan kepedulian dapat menjadi sumber kekuatan yang begitu besar.
Ada harapan yang tumbuh ketika masyarakat merasa didengar.
Ada ketenangan ketika warga tahu bahwa masih ada pihak yang mau datang melihat kondisi mereka secara langsung.
Dan ada keyakinan bahwa pemerintah bersama wakil rakyat tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan program besar, tetapi juga ketika ada satu keluarga yang sedang berjuang melewati masa sulit.
Langkah Dhamroni Chudlori ini sekaligus mengingatkan bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab untuk hadir di tengah rakyat.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberpihakan kepada masyarakat bukan hanya seberapa banyak kata yang diucapkan, tetapi seberapa cepat tangan bergerak ketika rakyat membutuhkan pertolongan.
Semangat “sat set wat wet” pun kembali dibuktikan Dhamroni dengan turun langsung ke tengah masyarakat, mendengar, melihat, berkoordinasi dan berupaya mencari jalan keluar bagi warga yang membutuhkan.
Karena bagi rakyat kecil, terkadang perhatian sederhana dari seorang pemimpin mampu menghadirkan harapan besar.






