Beranda / Uncategorized / Candi Sumur, Jejak Cinta dan Lumbung Pangan di Era Majapahit

Candi Sumur, Jejak Cinta dan Lumbung Pangan di Era Majapahit

OPINI HERU

 

Selamat siang pemirsa, dari Kabupaten Sidoarjo.
Jejak kejayaan Majapahit tidak hanya ada di Trowulan, Mojokerto. Di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Sidoarjo, berdiri dua candi kembar yang menjadi saksi sejarah penyelamatan pangan di era Raja Hayam Wuruk. Inilah Candi Sumur.

 

1. MASA PENDIRIAN

Candi Sumur merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang dibangun pada sekitar abad ke-14 Masehi. Di atas gerbang candi, ditemukan angka tahun 1293 Saka atau 1371 Masehi. Masa pembangunan ini bersamaan dengan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang berkuasa pada tahun 1350 hingga 1389 Masehi.

Candi berbahan bata merah yang menghadap ke barat ini bercorak Hindu, yang ditandai dengan temuan lingga-yoni yang kini sudah tidak ditemukan lagi di lokasi.

2. KAITAN DENGAN CANDI PARI – LANANG WADON

Keunikan Candi Sumur adalah letaknya yang tidak berdiri sendiri. Candi ini terletak kurang lebih 150 meter sebelah barat daya Candi Pari dan berada dalam satu kompleks yang sama.

Masyarakat setempat mengenal pasangan ini dengan sebutan bangunan “Lanang Wadon” atau laki-laki dan perempuan. Candi Pari diidentikkan sebagai lambang laki-laki, sementara Candi Sumur sebagai lambang perempuan. Keduanya diduga dibangun dalam periode yang sama di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk. Kondisi Candi Sumur saat ini memang sudah tidak utuh, yang tersisa hanya dinding sisi timur dan selatan, lantai dan pondasi bangunan.

3. LEGENDA RAKYAT – JAKA PANDELENGAN

Selain catatan sejarah, Candi Sumur juga kental dengan legenda rakyat yang hidup turun-temurun. Berdasarkan tradisi lisan, candi ini didirikan untuk mengenang kisah moksa atau menghilangnya sepasang suami istri, Jaka Pandelengan atau Joko Pandeglang dan Nyai Lara Walang Angin.

Konon, Raja Hayam Wuruk membangun candi itu untuk mengenang Joko Pandelegan yang telah berjasa besar menyelamatkan Kerajaan Majapahit dari bahaya kelaparan dan masa paceklik pangan.

Nama Candi Sumur sendiri dilatarbelakangi karena di dalam bangunan candi terdapat sebuah sumber air atau sumur yang saat ini telah mengering.

PENDUDUK SETEMPAT

Sunanik (64), Penduduk Setempat Desa Candi Pari, mengatakan:
“Peninggalan leluhur seperti Candi Sumur ini perlu dijaga dan dilestarikan. Ini bukan hanya tumpukan bata, tapi ini cerita tentang leluhur kita yang membantu orang banyak waktu paceklik. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi. Anak cucu harus tahu.”
PENGAMAT BUDAYA

Menanggapi hal tersebut, Teguh Suntoro, Pengamat Seni Budaya Sidoarjo menjelaskan:
“Pasangan Candi Pari dan Candi Sumur dengan filosofi lanang-wadon adalah konsep kosmologi Jawa yang luar biasa. Ini menunjukkan keseimbangan. Secara historis, ini membuktikan Majapahit tidak hanya hebat dalam ekspansi, tapi juga punya perhatian besar pada ketahanan pangan dan penghormatan pada rakyat kecil seperti Jaka Pandelengan. Sayangnya, pemugaran Candi Sumur baru sebagian berhasil dipulihkan, perlu perhatian serius dari pemerintah agar tidak punah.”

Pemirsa, pelestarian Candi Sumur adalah pelestarian identitas. Dari Porong, Sidoarjo, Tim Barata Persada melaporkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *