baratapersada.com
Surabaya// Langit Tanjung Perak siang itu kelam. Tidak hanya oleh awan, tapi oleh duka yang menggantung di dermaga. Selasa (15/9/2026), lautan yang biasanya menjadi jalur nafkah para sopir logistik, kini menjadi saksi bisu sebuah penghormatan yang pilu.
Sejumlah anggota Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT) berdiri berjejer di bibir dermaga Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di tangan mereka, genggaman bunga mawar merah dan melati. Bukan untuk perayaan, melainkan untuk 11 saudara mereka yang hingga kini masih hilang di perairan Laut Jawa, dalam tragedi KMP Virgo Transport 8.
Sebelum tabur bunga, para sopir ini tidak langsung datang. Mereka terlebih dahulu berkoordinasi dengan Tim SAR Gabungan. Hati mereka ingin memastikan, agar doa tidak salah alamat.
Hasil verifikasi itu menyesakkan: 11 anggota GSJT dipastikan tercatat dalam manifes kapal nahas tersebut, lengkap dengan data kendaraan logistik yang mereka kemudikan.
Setelah mendapat izin dan pendampingan petugas, satu per satu kelopak bunga ditaburkan ke laut. Angin membawa bunga itu menjauh, menuju tengah laut tempat rekan-rekan mereka terakhir terlihat. Suasana hening. Hanya debur ombak dan lantunan doa yang terdengar.
“Kami berdoa supaya kawan-kawan yang belum ditemukan segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat,” ucap Koordinator GSJT, Supriyono dengan suara bergetar.
Bagi GSJT, ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah jeritan solidaritas sesama pejuang jalanan.
11 Sopir dalam Daftar Penumpang
Tragedi KMP Virgo Transport 8 terjadi pada Minggu (13/9/2026) saat kapal berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal yang menjadi urat nadi logistik Jawa-Kalimantan itu membawa 243 jiwa, terdiri dari penumpang dan awak, serta 89 unit kendaraan, mayoritas truk logistik.
Dari jumlah itu, tercatat ada 126 sopir dan kernet di dalamnya. Mereka adalah tulang punggung distribusi pangan dan kebutuhan pokok antar pulau.

Hingga update operasi SAR pada Senin siang, 15 September 2026, tim gabungan baru berhasil menemukan 114 orang. Rinciannya, 108 orang ditemukan selamat dan 6 orang meninggal dunia. Sementara 129 orang lainnya masih dalam pencarian di tengah cuaca dan gelombang Laut Jawa yang tak bersahabat.
“Kami Tidak Mau Menyetorkan Nyawa”
Di balik aksi tabur bunga itu, ada amarah dan keprihatinan yang telah lama dipendam. Para sopir logistik merasa selalu menjadi korban dalam rantai kecelakaan transportasi laut yang berulang.
Supriyono menegaskan, musibah ini harus menjadi evaluasi total, bukan hanya bagi regulator, tapi terutama bagi operator dan pengusaha kapal.
“Ini yang harus jadi evaluasi bersama, apalagi dengan pengusaha kapal karena dalam tiga bulan, hari ini saja sudah berulang kali kejadian seperti ini yang lagi-lagi kami sebagai sopir logistik sebagai korban,” tegasnya.
Kalimat paling menghujam datang di akhir aksi. Sebuah tuntutan sederhana dari mereka yang setiap hari mempertaruhkan hidup di jalan raya dan lautan.
“Harapan kami ke depan, tolong benahi ini karena kami pengguna jasa, kami bayar, kami tidak mau menyetorkan nyawa meskipun kami menggunakan jasa itu,” pungkas Supriyono.
Aksi di Tanjung Perak pun usai. Bunga-bunga telah hanyut, doa-doa telah dipanjatkan. Namun pesan itu tertinggal di dermaga: bagi para sopir, perjalanan membawa logistik adalah perjalanan untuk mencari nafkah dan kembali pulang memeluk keluarga. Bukan perjalanan untuk mempertaruhkan nyawa.
Tim SAR gabungan hingga malam ini masih melanjutkan pencarian. 11 nama rekan GSJT, dan ratusan korban lainnya, masih ditunggu kepulangannya.
Jurnalis teguh Suntoro






