baratapersada.com
Sidoarjo // Ketika tubuh mulai tak berdaya, ketika pandangan mata perlahan menghilang, dan ketika seorang ibu harus tetap memikirkan masa depan tujuh anaknya, perhatian sekecil apa pun bisa menjadi harapan besar.
Kisah itulah yang ditemui Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo, Moch. H. Dhamroni Chudori, M.Si, saat turun langsung menemui dua warga yang tengah menghadapi persoalan kesehatan dan kehidupan yang tidak mudah di wilayah Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.
Mendapat laporan adanya warga yang membutuhkan bantuan, Dhamroni Chudori memilih tidak menunggu persoalan tersebut berlarut-larut. Dengan semangat “sat set wat wet”, ia langsung turun ke lapangan untuk melihat kondisi warga sekaligus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Warga pertama yang dikunjungi adalah M. Masbukhin, warga RT 01 RW 02 Desa Sudimoro. Masbukhin diketahui telah lama menderita diabetes melitus dan dalam kondisi tersebut harus menjalani perawatan di rumah.

Kondisinya mendapat perhatian serius. Dalam kunjungan tersebut, Dhamroni didampingi Plt. Kepala Desa Sudimoro beserta perangkat desa, SLRT, pendamping PKH, Kepala Puskesmas Tulangan dr. Teguh Dwiyanto beserta asistennya, serta perwakilan Kecamatan Tulangan.
Setelah melihat secara langsung kondisi Masbukhin, langkah cepat pun dilakukan. Masbukhin kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Notopuro Sidoarjo untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut.
Bagi keluarga, langkah tersebut tentu bukan sekadar sebuah kunjungan. Di tengah rasa khawatir menghadapi penyakit yang telah lama diderita, hadirnya perhatian dan tindakan nyata memberikan secercah harapan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi cobaan tersebut.
Namun langkah Dhamroni tidak berhenti di Desa Sudimoro.

Usai memastikan Masbukhin mendapatkan penanganan, ia melanjutkan perjalanan menuju Desa Kepadangan, Kecamatan Tulangan, untuk menemui warga lainnya, Suhartatik.
Kisah Suhartatik tak kalah mengundang keprihatinan.
Suhartatik merupakan seorang janda yang memiliki tujuh anak. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia masih harus memikirkan kebutuhan dan pendidikan anak-anaknya. Bahkan, salah satu anaknya masih duduk di bangku TK.
Namun sejak April 2026, kehidupan Suhartatik menghadapi ujian yang jauh lebih berat. Penglihatannya yang sebelumnya normal perlahan mengalami gangguan. Pandangannya semakin kabur, disertai sakit kepala yang sangat berat, hingga akhirnya ia mengalami kebutaan.
Bagi seorang ibu yang menjadi tumpuan tujuh anak, kehilangan kemampuan melihat bukan hanya persoalan kesehatan. Kondisi tersebut juga menjadi pukulan berat bagi kehidupan keluarga dan masa depan anak-anaknya.
Mendengar cerita tersebut, Dhamroni Chudori kembali bergerak.
Ia langsung berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit Umum Notopuro Sidoarjo untuk menanyakan perkembangan dan tindak lanjut penanganan Suhartatik.
Suhartatik diketahui sudah berkeinginan menjalani operasi. Namun, proses tersebut masih menunggu pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) sebagai bagian dari tahapan medis untuk menentukan penanganan selanjutnya.
Di tengah penantian tersebut, perhatian dari seorang wakil rakyat menjadi sesuatu yang berarti. Dhamroni berupaya memastikan proses penanganan Suhartatik tidak berhenti hanya pada laporan, tetapi terus dikawal agar mendapatkan kejelasan dan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya.
Dhamroni: Jangan Biarkan Masyarakat Berjuang Sendirian
Saat ditemui awak media, Moch. H. Dhamroni Chudori, M.Si menegaskan bahwa persoalan masyarakat harus direspons dengan tindakan nyata.
“Kalau ada laporan masyarakat yang membutuhkan bantuan, kita harus segera turun dan melihat kondisi sebenarnya. Jangan sampai masyarakat yang sedang sakit dan membutuhkan pertolongan justru harus menunggu terlalu lama,” ujar Dhamroni.
Menurutnya, tugas seorang wakil rakyat bukan hanya berada di ruang rapat atau membahas kebijakan, tetapi juga memastikan suara masyarakat benar-benar sampai dan mendapatkan tindak lanjut.
“Hari ini kita melihat langsung dua warga. Pak Masbukhin sudah kita bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Untuk Ibu Suhartatik, kita juga langsung berkoordinasi dengan rumah sakit terkait pemeriksaan MRI dan rencana tindakan medis berikutnya. Kita akan berusaha mengawal prosesnya,” ungkapnya.
Dhamroni menambahkan, penanganan persoalan masyarakat membutuhkan sinergi berbagai pihak. Pemerintah desa, kecamatan, puskesmas, rumah sakit, pendamping sosial maupun lembaga terkait harus saling berkoordinasi.
“Yang kita cari bukan siapa yang paling berperan, tetapi bagaimana masyarakat bisa mendapatkan pelayanan dan bantuan yang mereka butuhkan. Kalau masyarakat sedang sakit, jangan dibiarkan berjuang sendirian,” tegasnya.
Di Balik Kunjungan, Ada Harapan yang Harus Dijaga
Kunjungan tersebut menjadi gambaran bahwa di tengah berbagai kesibukan pemerintahan, masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian secara langsung.
Masbukhin membutuhkan pertolongan untuk menghadapi penyakit yang telah lama dideritanya. Sementara Suhartatik membutuhkan dukungan untuk menghadapi hilangnya penglihatan sekaligus tetap berjuang membesarkan tujuh anaknya.
Dua keluarga, dua persoalan, tetapi memiliki satu harapan yang sama: ingin mendapatkan pelayanan, perhatian dan kesempatan untuk hidup lebih baik.
Bagi masyarakat kecil, terkadang mereka tidak membutuhkan janji yang panjang. Mereka hanya ingin didengar, ditemui dan dibantu ketika berada dalam kondisi paling sulit.
Dan pada hari itu, langkah “sat set wat wet” Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Moch. H. Dhamroni Chudori menjadi pesan sederhana bahwa kepedulian terhadap masyarakat harus diwujudkan dengan kehadiran dan tindakan nyata.
Sebab pada akhirnya, jabatan bukan sekadar tentang kewenangan, tetapi tentang seberapa jauh keberadaan seorang wakil rakyat mampu menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang berada di titik terlemah dalam hidupnya.





