Sidoarjo,baratapersada.com. Kemerdekaan bukan sekadar tentang upacara, bendera merah putih yang berkibar, atau perayaan yang berlangsung setiap bulan Agustus. Bagi anak-anak usia dini, kemerdekaan dapat dikenalkan melalui cara sederhana: bermain bersama, tertawa bersama, belajar sportif, dan berani mencoba.
Semangat itulah yang terasa di PG/TK “Wachid Hasyim” Desa Tulangan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, saat sekolah menggelar berbagai kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Salah satu kegiatan yang mendapat sambutan penuh antusias adalah lomba membawa kelereng menggunakan sendok. Perlombaan yang terlihat sederhana tersebut justru menghadirkan keceriaan luar biasa bagi anak-anak.

Dengan wajah penuh semangat, satu per satu peserta berusaha berjalan perlahan sambil menjaga kelereng tetap berada di atas sendok. Ada yang berhasil sampai garis akhir, ada pula yang harus mengulang karena kelereng terjatuh.
Namun, tidak ada wajah kecewa yang terlalu lama. Senyum kembali mengembang ketika teman-teman dan guru memberikan semangat.
Di sinilah makna kemerdekaan terasa begitu dekat dengan dunia anak-anak: berani mencoba, tidak mudah menyerah, menghargai teman, dan menikmati kebersamaan.
Kepala Sekolah PG/TK “Wachid Hasyim”, Lailil Luhul Mahfudloh, S.Pd., mengatakan bahwa kegiatan peringatan kemerdekaan sengaja dikemas dalam suasana yang menyenangkan agar anak-anak dapat mengenal nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme sesuai dengan usia mereka.

“Bagi anak-anak, kemerdekaan kita kenalkan melalui kegiatan yang menyenangkan. Mereka belajar bahwa dalam sebuah perlombaan bukan hanya soal menjadi juara, tetapi juga belajar sportif, sabar, berani, disiplin dan menghargai teman,” tuturnya.
Menurut Lailil, pendidikan karakter tidak selalu harus diberikan melalui pembelajaran di dalam kelas. Nilai-nilai kehidupan justru dapat tumbuh dari pengalaman sederhana yang dialami anak secara langsung.
“Ketika anak berani maju, mencoba membawa kelereng, kemudian kelerengnya jatuh dan dia mau mencoba lagi, itu sudah menjadi pembelajaran. Mereka belajar bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti,” ujarnya.
Ia berharap semangat kebersamaan yang tumbuh dalam kegiatan tersebut dapat terus terbawa dalam kehidupan anak-anak sehari-hari.
“Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, saling menghargai dan memiliki rasa cinta terhadap bangsa dan negaranya. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi kenangan indah bagi mereka,” harapnya.
Kebahagiaan Anak, Kebanggaan Orang Tua
Keceriaan anak-anak dalam mengikuti perlombaan juga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para orang tua. Bagi mereka, melihat anak mampu tampil berani dan menikmati kebersamaan bersama teman merupakan sebuah kebanggaan.
Salah satu wali murid PG/TK “Wachid Hasyim”, Miftakhul Umma, mengaku sangat mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan pihak sekolah.
“Kami sebagai orang tua sangat senang melihat anak-anak begitu bahagia mengikuti lomba. Mereka bisa bermain bersama teman-temannya, berani tampil, sekaligus belajar banyak hal,” katanya.
Menurutnya, kegiatan seperti itu memiliki nilai lebih karena dapat mempertemukan sekolah, guru, anak didik dan orang tua dalam suasana penuh kegembiraan.
“Yang paling membuat kami terharu adalah melihat anak-anak begitu polos dan bahagia. Mereka mungkin belum memahami secara mendalam arti perjuangan para pahlawan, tetapi melalui kegiatan seperti ini mereka mulai mengenal kebersamaan, persatuan dan cinta Tanah Air,” ungkapnya.
Ia berharap tradisi kegiatan kemerdekaan di sekolah terus dipertahankan.
“Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang baik, berani, pintar, memiliki akhlak yang baik dan selalu mencintai Indonesia. Kami sebagai orang tua tentu akan selalu mendukung kegiatan positif yang dilakukan sekolah,” imbuhnya.
Menanam Benih Nasionalisme dari Hal Sederhana
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di PG/TK “Wachid Hasyim” akhirnya menjadi lebih dari sekadar perlombaan.
Di balik kelereng yang harus dijaga agar tidak jatuh, terdapat pelajaran tentang kesabaran. Di balik langkah kecil menuju garis finis, terdapat keberanian untuk mencoba. Dan di balik sorak-sorai teman-teman, tumbuh nilai persahabatan dan kebersamaan.
Anak-anak mungkin belum memahami sejarah panjang perjuangan bangsa secara utuh. Namun, dari kegiatan sederhana seperti inilah benih kecintaan terhadap Tanah Air mulai ditanam.
Sebab, kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan hari ini adalah tanggung jawab generasi masa depan untuk dijaga dan diteruskan.
Dari halaman sekolah, dari tawa anak-anak, dari lomba sederhana membawa kelereng dengan sendok, semangat Indonesia terus diwariskan, pelan, sederhana, tetapi penuh makna.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka!






