Beranda / Daerah / Buku Islam Ala Prabowo Dibedah: Dari Gagasan Susu Anak Indonesia hingga Makna Kemaslahatan dalam Islam

Buku Islam Ala Prabowo Dibedah: Dari Gagasan Susu Anak Indonesia hingga Makna Kemaslahatan dalam Islam

Buku Islam Ala Prabowo dikaji Yoyok Amiruddin dari perspektif keislaman, membahas gizi anak, pangan, rasa aman, dan kemaslahatan rakyat.

baratapersada.com

Sumber: Chanel sembilan, Spektrum

Malang// Ketika gagasan tentang anak-anak Indonesia yang dapat menikmati susu dipertemukan dengan pesan Al-Qur’an tentang pangan dan rasa aman, muncul sebuah pertanyaan mendasar: sejauh mana program prioritas pemerintah dapat dibaca melalui perspektif keislaman?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu titik perhatian Yoyok Amiruddin, M.Pd.I., Ph.D., Dosen Pendidikan Agama Islam sekaligus doktor alumni National Pingtung University, Taiwan, dalam membaca buku Islam Ala Prabowo. Ia juga merupakan Pengurus PCI NU Taiwan.

Bagi Yoyok, buku tersebut tidak semestinya dipahami hanya sebagai narasi tentang politik, kekuasaan, atau sosok Prabowo Subianto. Di dalamnya terdapat ruang untuk mengkaji hubungan antara gagasan kepemimpinan, program prioritas pemerintah, dan nilai-nilai Islam yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Dari Gagasan Susu hingga Persoalan Gizi Anak

Yoyok menyoroti prolog yang ditulis A. Muzani. Dalam prolog tersebut dikisahkan keinginan Prabowo sebelum mendirikan Partai Gerindra agar anak-anak Indonesia dapat minum susu.

Gagasan itu kemudian dibaca Yoyok melalui kerangka nilai keislaman, khususnya mengenai pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Menurutnya, persoalan pangan dan gizi dapat dikaitkan dengan pesan Al-Qur’an tentang penghapusan kelaparan dan terciptanya rasa aman.

Ia merujuk pada QS. Quraisy ayat 4:

alladzi ath’amahum min ju’in wa amanahum min khauf.

Ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah memberikan makanan untuk menghilangkan kelaparan dan memberikan keamanan dari ketakutan.

Dalam konteks ini, pemenuhan gizi anak dapat dipandang sebagai salah satu bentuk ikhtiar menghadirkan kemaslahatan. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi layak memiliki kesempatan lebih baik untuk tumbuh dan berkembang, sementara masyarakat membutuhkan kebijakan yang mampu menjawab persoalan kebutuhan dasar secara nyata.

Namun, Yoyok mengingatkan bahwa hubungan antara ayat Al-Qur’an dan program pemerintah harus dibaca secara proporsional. Mengaitkan sebuah kebijakan dengan nilai Islam merupakan bentuk penafsiran atau pembacaan nilai, bukan klaim bahwa ayat tersebut secara langsung menetapkan kebijakan tertentu.

Islam Tidak Berhenti pada Politik dan Kekuasaan

Menurut Yoyok, pembacaan terhadap buku Islam Ala Prabowo perlu dilakukan secara kritis dan ilmiah. Diskusi tentang Islam dan kepemimpinan tidak cukup hanya berkutat pada dukungan politik, dinamika kekuasaan, atau figur pemimpin.

Lebih jauh, pembahasan perlu diarahkan pada pertanyaan yang menyentuh kehidupan masyarakat: bagaimana kebutuhan pangan dipenuhi, bagaimana gizi anak diperbaiki, dan bagaimana rasa aman serta kesejahteraan rakyat diwujudkan.

Perspektif tersebut membuka ruang untuk melihat bahwa nilai-nilai keislaman juga dapat dibicarakan dalam konteks kebijakan publik. Akan tetapi, setiap program tetap perlu dikaji berdasarkan tujuan, pelaksanaan, dampak, serta manfaatnya bagi masyarakat.

Buku Islam Ala Prabowo, dalam pembacaan Yoyok, dapat menjadi bahan diskusi untuk mempertemukan gagasan keislaman dengan persoalan kesejahteraan rakyat.

Sebab, di balik perdebatan tentang politik dan kepemimpinan, terdapat kebutuhan masyarakat yang tidak boleh diabaikan: anak-anak yang membutuhkan gizi, keluarga yang membutuhkan pangan, dan rakyat yang mendambakan kehidupan yang aman serta sejahtera.

Pada titik itulah, pembahasan mengenai Islam dan kepemimpinan menemukan dimensi kemanusiaannya, bukan sekadar tentang siapa yang memegang kekuasaan, melainkan bagaimana nilai-nilai kebaikan diterjemahkan menjadi kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *