Beranda / Daerah / Jejak Darah Bathara Katong: Dr.dr. Andre Yulius, M.Pd., MH, Keturunan Trah ke-8 yang Mengabdi untuk Rakyat

Jejak Darah Bathara Katong: Dr.dr. Andre Yulius, M.Pd., MH, Keturunan Trah ke-8 yang Mengabdi untuk Rakyat

baratapersada.com

Sidoarjo//Terik matahari Sidoarjo seolah tidak mampu menyurutkan langkah seorang dokter yang memilih berada di tengah masyarakat. Dengan iket hitam yang melingkar di kepala, sosok itu berjalan menyusuri ruang-ruang pengabdian, mendatangi masyarakat dan memberikan pelayanan kesehatan kepada mereka yang membutuhkan.

Dialah Kanjeng Raden Dokter Andre Yulius, sosok yang dikenal luas sebagai dokter yang dekat dengan rakyat. Di tengah kesibukan dan status sosial yang melekat pada dirinya, Dokter Andre justru memilih jalan pengabdian, turun langsung ke tengah masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan akses pelayanan kesehatan.

Bagi Dokter Andre, menjadi seorang dokter bukan semata-mata profesi. Ada tanggung jawab kemanusiaan yang harus dijalankan.

Jejak pengabdiannya diwujudkan melalui berbagai kegiatan bakti sosial dan pelayanan pengobatan gratis. Dari memeriksa kondisi kesehatan warga, mengukur tekanan darah, memberikan obat hingga mendengarkan keluhan masyarakat secara langsung.

Di tempat-tempat seperti itulah, jarak antara seorang dokter dengan rakyat seakan hilang. Tidak ada sekat antara ruang praktik dengan masyarakat kecil. Yang tersisa hanyalah seorang tenaga medis dan pasien yang membutuhkan pertolongan.

Darah Leluhur, Semangat Pengabdian

Dokter Andre disebut merupakan bagian dari trah keturunan Bathara Katong, Adipati Pertama Ponorogo, dan berada pada garis keturunan ke-8. Bagi dirinya, sejarah dan garis keturunan bukan sekadar kebanggaan yang disimpan dalam cerita keluarga.

Nilai yang lebih penting adalah bagaimana warisan leluhur tersebut diterjemahkan menjadi semangat untuk mengabdi.

Kebangsawanan, dalam perspektif itu, tidak berhenti pada gelar atau simbol. Ia harus menemukan makna ketika pemiliknya mampu hadir di tengah masyarakat, merasakan persoalan rakyat dan memberikan manfaat nyata.

Semangat itulah yang tampak dalam berbagai kegiatan sosial yang dijalankan Dokter Andre.

Ia memilih mendatangi masyarakat secara langsung. Bukan hanya mereka yang mampu membayar layanan kesehatan, tetapi juga masyarakat kecil yang terkadang harus berpikir berkali-kali ketika hendak berobat karena keterbatasan ekonomi.

“Berada di Garis Depan”

Ketua Central Adat Dan Keturunan Raja Nusantara (CAKRA), Abdullah Amas, menilai Dokter Andre merupakan sosok yang memiliki keberanian dan kapasitas intelektual untuk berada di garis depan dalam gerakan sosial kemasyarakatan.

“Benar-benar di garis depan, baik intelektual, keberanian, dan lain sebagainya,” ujar Abdullah Amas.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana Dokter Andre tidak hanya dilihat dari profesinya sebagai seorang dokter, tetapi juga dari keberaniannya mengambil peran di tengah persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Bagi sebagian kalangan, kehadiran seorang dokter di tengah masyarakat kecil mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga yang membutuhkan pertolongan, sebuah pemeriksaan kesehatan, obat, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan keluhan mereka dapat memiliki arti yang jauh lebih besar.

Di situlah nilai sebuah pengabdian diuji.

Bukan Sekadar Gelar, Tetapi Tanggung Jawab

Di tengah perubahan zaman, gelar kebangsawanan sering kali hanya menjadi simbol masa lalu. Namun ketika nilai-nilai leluhur diterjemahkan dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat, sejarah tersebut memperoleh makna baru.

Dokter Andre mencoba menempatkan dirinya pada ruang tersebut.

Warisan leluhur tidak digunakan untuk menciptakan jarak dengan masyarakat, tetapi justru menjadi alasan untuk semakin dekat dengan rakyat.

Ia hadir dengan profesi kedokterannya, tetapi yang dibawa bukan hanya stetoskop dan obat-obatan. Ada kepedulian, keberanian serta keinginan untuk membantu masyarakat yang berada dalam kondisi sulit.

Bagi masyarakat kecil, mungkin tidak penting dari mana seseorang berasal atau seberapa tinggi gelar yang disandangnya. Yang jauh lebih penting adalah apakah ketika mereka membutuhkan pertolongan, ada seseorang yang bersedia datang.

Dan di titik itulah sosok Dokter Andre berusaha menempatkan dirinya.

Berdiri Bersama Wong Cilik

Sidoarjo merupakan daerah dengan dinamika sosial yang begitu kompleks. Di balik pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, masih terdapat masyarakat yang membutuhkan perhatian, termasuk dalam bidang kesehatan.

Kehadiran pelayanan kesehatan gratis menjadi salah satu bentuk kepedulian yang secara langsung menyentuh kebutuhan warga.

Dokter Andre memilih untuk hadir di ruang tersebut.

Ia tidak hanya ingin dikenal sebagai seorang dokter, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang bersedia mendengar, membantu dan berjalan bersama mereka.

Sebab pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukan hanya seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa jauh ia bersedia menundukkan diri untuk mengangkat mereka yang berada di bawah.

Di tengah panasnya Sidoarjo, langkah Dokter Andre menjadi gambaran bahwa warisan leluhur tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu.

Darah keturunan boleh mengalir dari generasi ke generasi. Namun nilai perjuangan hanya akan hidup ketika diwujudkan dalam tindakan.

Dan bagi masyarakat yang pernah merasakan manfaat kehadirannya, pengabdian itu bukan sekadar gelar, bukan sekadar nama, dan bukan pula sekadar simbol.

Ia adalah keberanian untuk berdiri di garis depan ketika rakyat membutuhkan pertolongan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *