Beranda / Daerah / Kepedulian Muslimat NU Sidoarjo Menyentuh Penghuni Liponsos, Hj. Ainun Jariyah: Mereka Juga Manusia yang Harus Diperhatikan

Kepedulian Muslimat NU Sidoarjo Menyentuh Penghuni Liponsos, Hj. Ainun Jariyah: Mereka Juga Manusia yang Harus Diperhatikan

baratapersada.com

Sidoarjo// Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Sidoarjo. Di tengah momentum memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, organisasi perempuan Nahdlatul Ulama tersebut kembali hadir membawa bantuan bagi mereka yang membutuhkan.

Untuk keempat kalinya sepanjang tahun 2026, PC Muslimat NU Sidoarjo menyalurkan bantuan sosial. Kali ini, perhatian diarahkan kepada para penghuni Liponsos Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo yang berada di Jalan Sekolahan, Cangkring, Sidokare.

Rabu (19/8/2026) siang, rombongan PC Muslimat NU Sidoarjo dipimpin langsung Ketua PC Muslimat NU Sidoarjo, Hj. Ainun Jariyah, mendatangi Liponsos untuk menyerahkan sejumlah kebutuhan sehari-hari bagi para penghuninya.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, Diana Ambarukmi.

Bukan sekadar seremonial, bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan para penghuni Liponsos. Di antaranya 20 kasur busa lengkap dengan bantal, yang diperuntukkan sebagai alas tidur para lansia. Selain itu, PC Muslimat NU Sidoarjo juga menyerahkan mi instan, nasi kotak, pakaian layak pakai serta sejumlah kebutuhan lainnya.

Hj. Ainun Jariyah mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari kepedulian PC Muslimat NU Sidoarjo dalam mengisi momentum kemerdekaan dengan berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Kita berikan beberapa item barang yang memang mendesak untuk digunakan. Seperti 20 kasur busa beserta bantal untuk alas tidur para lansia, ada juga mi instan, nasi kotak, baju layak pakai dan beberapa item lainnya,” ungkap Ainun.

Namun, kunjungan tersebut tidak berhenti pada penyerahan bantuan. Di balik kondisi para penghuni Liponsos, Ainun melihat masih adanya kebutuhan yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius, khususnya berkaitan dengan sarana dan prasarana serta pemenuhan kebutuhan dasar.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi Liponsos, termasuk kebutuhan makanan bagi para penghuninya.

Menurut Ainun, para penghuni Liponsos tetap memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan perhatian yang manusiawi.

“Tiap makan nilainya per orang yang diberikan tiga kali sehari masih minim. Mereka juga manusia yang perlu diperhatikan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya dimaknai dengan upacara dan perayaan, tetapi juga dengan menghadirkan kepedulian kepada masyarakat yang berada dalam kondisi rentan.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, Diana Ambarukmi, menyampaikan apresiasi atas kepedulian PC Muslimat NU Sidoarjo.

Menurut Diana, bantuan berupa sandang maupun kebutuhan sehari-hari sangat berarti bagi para penghuni Liponsos. Terlebih, pihak Liponsos saat ini belum memiliki anggaran khusus untuk memenuhi kebutuhan alas tidur.

“Hari ini jumlah penghuni Liponsos sebanyak 107 orang. Bantuan yang diberikan hari ini sangat membantu karena kami memang belum memiliki anggaran untuk alas tidur,” jelas Diana.

Dari total 107 penghuni tersebut, terdapat 64 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), sembilan lansia, sembilan warga terlantar, satu gelandangan dan pengemis (gepeng), serta satu anak yang memerlukan perlindungan khusus (APK).

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa Liponsos bukan sekadar tempat penampungan, tetapi juga menjadi ruang rehabilitasi dan perlindungan bagi warga yang membutuhkan perhatian serta pendampingan.

Kehadiran PC Muslimat NU Sidoarjo di tempat tersebut pun menjadi bentuk nyata bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui aksi sederhana yang berdampak langsung bagi sesama.

Bagi para penghuni Liponsos, sebuah kasur untuk beristirahat, sepiring makanan, pakaian layak pakai, maupun perhatian dari orang lain mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah keterbatasan mereka, kepedulian tersebut dapat menjadi pesan bahwa mereka tidak dilupakan.

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia akhirnya tidak hanya menjadi perayaan tentang perjalanan bangsa, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali mengingat bahwa kemerdekaan akan semakin bermakna ketika kepedulian dan rasa kemanusiaan hadir untuk semua, termasuk mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *