Warga RT 02 RW 02 Desa Jiken, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, mengandalkan swadaya dan gotong royong untuk merehabilitasi total Mushola Babus Salam. Kepala Desa Jiken Budiono turut turun langsung bersama masyarakat.
Baratapersada.com
Sidoarjo // Semangat gotong royong masih menjadi kekuatan nyata masyarakat. Hal itu terlihat di lingkungan RT 02 RW 02, Desa Jiken, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Warga setempat bahu-membahu melaksanakan rehabilitasi total Mushola Babus Salam dengan mengandalkan swadaya masyarakat, membuktikan bahwa kepedulian bersama mampu menjadi modal penting dalam membangun fasilitas ibadah.
Pembangunan tersebut bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik. Di balik pengerjaannya, ada partisipasi warga, kebersamaan, dan kesadaran kolektif untuk menghadirkan tempat ibadah yang lebih layak dan nyaman bagi masyarakat sekitar.
Yang menjadi perhatian, rehabilitasi total Mushola Babus Salam ini dikerjakan melalui swadaya warga. Masyarakat tidak hanya memberikan dukungan, tetapi juga turun langsung mengerjakan pembangunan secara gotong royong.

Kepala Desa Jiken, Budiono, bahkan turut hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya bersama warga memperlihatkan bahwa pembangunan di tingkat lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, bukan hanya mengandalkan satu pihak.
Swadaya Warga Jadi Penggerak Pembangunan
Ketua RT 02 RW 02 Desa Jiken, Ma’udin, menyampaikan bahwa rehabilitasi total Mushola Babus Salam merupakan wujud kepedulian masyarakat terhadap keberadaan sarana ibadah di lingkungan mereka.
Semangat warga menjadi kekuatan utama dalam pengerjaan. Melalui swadaya dan gotong royong, masyarakat berupaya mewujudkan mushola yang lebih baik untuk kepentingan bersama.
“Rehabilitasi total Mushola Babus Salam ini merupakan hasil swadaya masyarakat. Kami ingin warga terus menjaga kekompakan dan kebersamaan, karena pembangunan ini untuk kepentingan bersama. Harapan kami, mushola ini nantinya menjadi tempat ibadah yang lebih nyaman dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat,” ujar Ma’udin.

Menurutnya, keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam menjaga rasa memiliki terhadap fasilitas ibadah. Dengan ikut berkontribusi dalam pembangunan, masyarakat diharapkan juga memiliki tanggung jawab bersama untuk merawat dan menjaga mushola setelah pengerjaan selesai.
Ketua RW: Gotong Royong Bukan Sekadar Slogan
Sementara itu, Ketua RW 02 Desa Jiken, Abdul Halim, menilai kebersamaan warga dalam merehabilitasi Mushola Babus Salam menjadi gambaran nyata bahwa budaya gotong royong masih hidup di tengah masyarakat.
Bagi warga, pembangunan fasilitas ibadah bukan semata-mata urusan fisik bangunan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas, mempererat hubungan antarwarga, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kebutuhan lingkungan.
“Gotong royong bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Apa yang dilakukan warga RT 02 RW 02 ini menunjukkan bahwa dengan kebersamaan dan kepedulian, masyarakat dapat bergerak bersama untuk kepentingan lingkungan,” ungkap Abdul Halim.

Ia berharap kekompakan tersebut terus terjaga, baik selama proses rehabilitasi berlangsung maupun setelah Mushola Babus Salam kembali digunakan untuk kegiatan ibadah dan keagamaan.
Kepala Desa Budiono Turun Langsung, Pembangunan Jadi Tanggung Jawab Bersama
Di sisi lain, Kepala Desa Jiken, Budiono, tidak hanya melihat pembangunan dari jauh. Ia turun langsung mengikuti kegiatan gotong royong bersama masyarakat dalam rehabilitasi total Mushola Babus Salam.
Di sisi lain, Kepala Desa Jiken, Budiono, tidak hanya melihat pembangunan dari jauh. Ia turun langsung mengikuti kegiatan gotong royong bersama masyarakat dalam rehabilitasi total Mushola Babus Salam.
Keterlibatan kepala desa di tengah warga menjadi gambaran pentingnya kedekatan pemerintah desa dengan masyarakat. Terlebih, pembangunan yang bersumber dari swadaya membutuhkan semangat kebersamaan agar pelaksanaannya berjalan sesuai harapan.
Budiono menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif dan kekompakan warga yang bersedia mengerahkan tenaga serta dukungan untuk memperbaiki tempat ibadah di lingkungan mereka.
“Semangat swadaya dan gotong royong masyarakat seperti ini patut diapresiasi. Rehabilitasi Mushola Babus Salam merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap fasilitas ibadah. Semoga pengerjaannya berjalan lancar, hasilnya baik, dan mushola ini nantinya semakin nyaman digunakan oleh masyarakat,” ujar Budiono.
Keterlibatan pemerintah desa bersama masyarakat juga diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan kerja sama dalam menjawab kebutuhan lingkungan. Sebab, pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar, tetapi juga dapat tumbuh dari inisiatif warga untuk memenuhi kebutuhan bersama.
Lebih dari Sekadar Bangunan, Ada Kepedulian yang Dibangun
Rehabilitasi total Mushola Babus Salam menjadi pengingat bahwa pembangunan lingkungan tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan baru atau selesainya pekerjaan fisik. Partisipasi masyarakat, transparansi penggunaan swadaya, serta tanggung jawab dalam menjaga hasil pembangunan juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Warga RT 02 RW 02 Desa Jiken telah menunjukkan keterlibatan langsung melalui tenaga dan swadaya. Kini, harapannya, pengerjaan dapat berlangsung lancar sehingga Mushola Babus Salam semakin layak digunakan sebagai tempat beribadah sekaligus pusat kegiatan keagamaan warga.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan bermasyarakat, semangat yang ditunjukkan warga Jiken memperlihatkan bahwa kepentingan bersama dapat menjadi alasan kuat untuk bergerak tanpa harus menunggu semua pekerjaan dilakukan pihak lain.
Gotong royong menjadi kekuatan, swadaya menjadi modal, dan kebersamaan menjadi fondasi. Itulah semangat yang mengiringi rehabilitasi total Mushola Babus Salam di RT 02 RW 02, Desa Jiken, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.
(Redaksi BarataPersada.com)





