Beranda / Daerah / Angklung Sekar Jagad di Bawah Binaan LP2KN Tak Sekadar Tampil, Misi Pelestarian Budaya Berlanjut ke Festival Remo Munalipatah

Angklung Sekar Jagad di Bawah Binaan LP2KN Tak Sekadar Tampil, Misi Pelestarian Budaya Berlanjut ke Festival Remo Munalipatah

Angklung Sekar Jagad di bawah binaan LP2KN tampil pada perayaan Hari Batik Nasional di Grand Inna Tunjungan dan dijadwalkan kembali tampil di Festival Remo Munalipatah, 17 Oktober 2026.

Baratapersada.com

Surabaya// Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengagungkan warisan leluhur dalam pidato dan seremoni. Kesenian tradisional harus terus dimainkan, diperkenalkan, dan diberi panggung agar tidak kehilangan tempat di tengah derasnya perkembangan zaman. Semangat itulah yang ditunjukkan Angklung Sekar Jagad di bawah binaan Lembaga Pengembangan Pelestarian Kebudayaan Nusantara (LP2KN).

Setelah tampil dalam rangkaian perayaan Hari Batik Nasional bertajuk “Jejak Batik Nusantara: Sehelai Cerita, Seribu Makna” di pelataran Grand Inna Tunjungan, Surabaya, Sabtu (10/10/2026), Angklung Sekar Jagad dijadwalkan kembali tampil pada 17 Oktober 2026 dalam acara Festival Remo Munali patah

Akan tetapi Angklung Sekar Jagad sebelumnya sudah dan sering tampil di event event besar, seperti tanggal 11 Oktober 2026, Angklung Sekar Jagad tampil di konser Gita bersatu di Mall  Sun City.

 

Dua agenda kebudayaan tersebut menjadi ruang bagi Angklung Sekar Jagad untuk terus memperkenalkan musik tradisional kepada masyarakat. Lebih dari sekadar pertunjukan, kehadiran kelompok ini membawa pesan bahwa kesenian Nusantara harus tetap hidup melalui pembinaan, partisipasi, dan kesempatan tampil yang berkelanjutan.

Angklung Sekar Jagad Buktikan Kesenian Tradisional Layak Mendapat Panggung

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Grand Inna Tunjungan bersama LP2KN tersebut, Angklung Sekar Jagad tampil sebagai bagian dari rangkaian pertunjukan seni yang mengangkat kekayaan budaya Indonesia.

Penampilannya melengkapi beragam sajian budaya, mulai dari musik keroncong Laras Jenggolo, Tari Remo dan Tari Ganong dari Sekar Budaya, hingga peragaan busana batik yang memadukan unsur tradisional dengan sentuhan modern.

Alunan angklung yang mengisi penghujung acara mempertegas bahwa musik tradisional masih memiliki ruang di tengah masyarakat. Namun, keberlangsungan kesenian semacam ini tidak boleh hanya bergantung pada perayaan hari besar atau kegiatan seremonial.

Diperlukan pembinaan yang konsisten, ruang pertunjukan yang terbuka, serta dukungan berbagai pihak agar kelompok seni tradisional mampu terus berkembang dan menjangkau generasi penerus.

Di sinilah keberadaan LP2KN menjadi bagian penting dalam perjalanan Angklung Sekar Jagad. Di bawah binaan lembaga tersebut, kelompok angklung ini terus mengambil bagian dalam agenda kebudayaan sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberadaan musik tradisional.

17 Oktober 2026, Angklung Sekar Jagad Kembali Naik Panggung

Belum berselang lama dari penampilan di Grand Inna Tunjungan, Angklung Sekar Jagad dijadwalkan kembali hadir dalam Festival Remo Munalipatah pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Agenda tersebut menjadi kesempatan berikutnya untuk membawa musik angklung ke ruang apresiasi budaya yang lebih luas. Kehadiran kelompok ini sekaligus memperpanjang partisipasinya dalam rangkaian kegiatan seni selama Oktober 2026.

Festival bukan semata-mata tempat mempertontonkan kemampuan bermusik. Lebih dari itu, panggung kebudayaan dapat menjadi sarana mempertemukan seniman dengan masyarakat, menumbuhkan kecintaan terhadap kesenian tradisional, dan memperkuat kesadaran bahwa warisan budaya membutuhkan penerus.

Bagi Angklung Sekar Jagad, setiap kesempatan tampil merupakan ruang untuk memperkenalkan musik angklung sebagai bagian dari kekayaan seni Indonesia. Sementara bagi upaya pelestarian budaya, kesinambungan penampilan menjadi salah satu cara agar kesenian tradisional tidak terpinggirkan oleh hiburan modern.

LP2KN dan Tantangan Menjaga Budaya agar Tidak Sekadar Menjadi Kenangan

Pelestarian kebudayaan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ketika masyarakat semakin akrab dengan hiburan modern, kesenian tradisional membutuhkan pendekatan yang kreatif agar tetap dikenal dan diminati, khususnya oleh generasi muda.

Karena itu, pembinaan kelompok seni tidak semestinya berhenti pada pengenalan alat musik atau latihan semata. Kesempatan tampil, keterlibatan dalam festival, dan interaksi langsung dengan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian.

Melalui pembinaan Angklung Sekar Jagad, LP2KN mengambil bagian dalam upaya menghadirkan musik tradisional di berbagai kegiatan kebudayaan. Penampilan di Grand Inna Tunjungan dan agenda mendatang di Festival Remo Munalipatah menjadi momentum untuk terus memperluas apresiasi terhadap kesenian tersebut.

Sinergi antara lembaga kebudayaan, penyelenggara kegiatan, komunitas seni, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu membuka lebih banyak ruang bagi kelompok seni tradisional untuk berkembang.

Sebab, kesenian yang tidak memperoleh ruang tampil berisiko semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, kesenian yang terus dimainkan dan diperkenalkan memiliki peluang lebih besar untuk dikenal, dipelajari, dan diwariskan.

Bukan Sekadar Pertunjukan, tetapi Perjuangan Menjaga Identitas Bangsa

Kehadiran Angklung Sekar Jagad dalam dua agenda kebudayaan ini membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Ada tanggung jawab untuk menjaga musik tradisional tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan hanya ditampilkan ketika ada perayaan tertentu.

Angklung merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang merepresentasikan kreativitas dan kebersamaan. Keberadaannya perlu dijaga melalui keterlibatan nyata para pelaku seni serta dukungan terhadap kegiatan yang memberi ruang bagi mereka untuk terus berkarya.

Dengan pembinaan LP2KN dan partisipasi dalam Festival Remo Munalipatah pada 17 Oktober 2026, Angklung Sekar Jagad diharapkan terus memperkuat kiprahnya dalam memperkenalkan musik tradisional kepada khalayak yang lebih luas.

Budaya tidak akan bertahan hanya karena diwariskan dalam cerita. Budaya akan tetap hidup ketika dimainkan, dipelajari, dicintai, dan diteruskan. Melalui Angklung Sekar Jagad, pesan itu kembali ditegaskan: menjaga warisan Nusantara membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar kebanggaan dalam kata-kata.

Jurnalis: wapimred

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *