Beranda / Daerah / Desa Bungurasih Peringati Hari Jadi Dengan Pagelaran Wayang Kulit

Desa Bungurasih Peringati Hari Jadi Dengan Pagelaran Wayang Kulit

baratapersada.com

Sidoarjo// Baratapersada.com, Peringatan Hari Jadi Desa Bungurasih – Waru Sidoarjo yang ke 1.166 memberi kesan yang berbeda di tahun ini, Rangkaian acara kegiatan yang sudah di susun rapi mulai dari kirab dengan teatrikal, pagelaran wayang kulit Jawa Timuran, klenengan karawitan, campursari dan tari remo.

Sebelum kirap di berangkatkan, peserta kirab akan membacakan “Sumpah Bungurasih” sebagai berikut Kami, warga Desa Bungurasih, para ulama, tokoh masyarakat, sesepuh, laki – laki dan perempuan, para pemuda, serta seluruh lapisan masyarakat, dengan penuh kesadaran dan keikhlasan akan selalu menjaga, merawat dan melestarikan warisan leluhur.

Sore itu warga sudah berbondong – bondong membanjiri jalanan yang akan dilalui kirab, sambut kemeriahan dengan sorak sorai mulai nampak terlihat ketika iring-iringan kirap dengan membawa hasil bumi, tumpeng, bunga, penjor janur, umbul-umbul serta terlihat rombongan Ishari dengan disutradarai oleh Meimura melakukan teatrikal yang cukup memukau penonton.

Kemeriahan belum berhenti di sini, malam hari disambung lagi dengan pagelaran wayang kulit yang di gelar dalam pelataran Makam Mbah Ibrahim Al Jaelani dengan sebutan lain Mbah Jenggot, pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Pringgo Jati Rahmanu berjudul “Babat Alas Wonomarto pada Sabtu (22/8/26).

Ketua Panitia kegiatan Henri Nurcahyo menuturkan jika pagelaran acara ini di peringati setiap tahun dan sudah berjalan puluhan tahun. Selain memperingati hari jadi desa yang seharusnya jatuh pada 31 Oktober di majukan sekali gus memperingati kemerdekaan negara kita. acara ini merupakan program pemberdayaan ruang publik Indonesia serta dana bersumber dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Sebelum wayangan, acara dibuka oleh tak lupa Grup Banjari IKSAMU (Ikatan Santri Amanatul Muslimah) Bungurasih Timur, Samba Fun Music juga unjuk kebolehan. Ditambahkan, Hari Jadi Desa Bungurasih itu sendiri sebetulnya tanggal 31 Oktober, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Gedangan atau Prasasti Kancana. Di mana pada tahun 860 Masehi Raja Rakai Kayuwangi dari Mataram Kuno memberikan anugerah Desa Sima kepada Desa Bungur Lor.

Dengan penuh harapan kepada warganya bisa menjaga dan merawat bangunan suci Kancana, Prosesi penganugerahan Desa Sima itu pun dilakukan dengan ritual Manusuk Sima. Dahulu, manusuk sima mempunyai arti menetapkan batas dan status sebuah wilayah.

Kini, manusuk sima dapat dimaknai sebagai menancapkan kembali ingatan sejarah sebuah desa agar tidak tergerus oleh perubahan zaman. Di akhir pembicaraan panitia dan seluruh warga Desa Bungurasih berjanji akan menjaga, melestarikan, merawat tanah kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur agar tetap menjadi tempat yang aman, tenteram, dan bermartabat. ( Dik )

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *