Beranda / Daerah / Kaji Reza Disebut ‘Bapak Keberagaman Sidoarjo’, Doa Bagi Bangsa Jadi Panggung Pesan Kerukunan

Kaji Reza Disebut ‘Bapak Keberagaman Sidoarjo’, Doa Bagi Bangsa Jadi Panggung Pesan Kerukunan

Sekitar 300 peserta mengikuti Doa Bagi Bangsa di GBI Centro Sidoarjo. Kaji Reza mendapat apresiasi atas komunikasi lintas agama dan pesan agar keberagaman dirawat melalui dialog serta persaudaraan.

baratapersada.com

Sidoarjo//  Di tengah keberagaman yang menjadi wajah Kabupaten Sidoarjo, pesan tentang kerukunan kembali menggema. Bukan sekadar seremoni, pertemuan lintas umat dalam kegiatan Doa Bagi Bangsa di GBI Centro Sidoarjo menjadi ruang untuk meneguhkan satu pesan: perbedaan tidak boleh menjadi sekat persaudaraan.

Sekitar 300 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari pimpinan aras dan berbagai organisasi masyarakat Kristen di Sidoarjo.

Di tengah suasana kebersamaan itu, sosok H. Rizza Ali Faizin, yang akrab disapa Kaji Reza, mendapat julukan “Bapak Keberagaman Sidoarjo”.

Julukan tersebut disampaikan sebagai bentuk apresiasi atas perhatian Kaji Reza terhadap keberagaman serta komunikasi antarumat beragama di Sidoarjo.

Sekretaris Majelis Umat Kristen Indonesia, Yonathan Toar Sangari, turut memberikan apresiasi terhadap kiprah Kaji Reza dalam membangun komunikasi lintas kelompok.

Bagi Kaji Reza, keberagaman bukan sekadar realitas sosial yang harus diterima, melainkan kekuatan yang harus dijaga bersama.

“Keberagaman adalah kekuatan kita bersama. Sidoarjo adalah rumah bagi seluruh masyarakat. Karena itu, mari kita terus menjaga kerukunan, saling menghormati, dan membangun persaudaraan,” ujar Kaji Reza.

Sebagai Ketua Komisi A DPRD Sidoarjo sekaligus Kasatkorwil Banser Jawa Timur, Kaji Reza menyebut komunikasi menjadi salah satu kunci dalam merawat kehidupan masyarakat yang majemuk.

Pesan itu tidak berhenti pada forum doa. Sebelumnya, Kaji Reza juga turut memfasilitasi persoalan akses menuju gereja yang terdampak pelaksanaan Car Free Day (CFD).

Persoalan tersebut kemudian dibahas melalui komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait. Upaya tersebut dilakukan agar akses masyarakat untuk menjalankan kegiatan peribadatan tetap dapat berlangsung.

Bagi masyarakat yang hidup dalam keberagaman, persoalan kecil sekalipun dapat menjadi besar ketika komunikasi terputus. Sebaliknya, perbedaan kepentingan dapat menemukan jalan keluar ketika semua pihak bersedia duduk bersama.

Di titik inilah pesan Doa Bagi Bangsa menemukan maknanya.

Kerukunan tidak cukup hanya diucapkan dari mimbar. Ia harus hadir dalam tindakan, komunikasi, dan kesediaan menghormati hak setiap warga untuk menjalankan keyakinannya.

Kegiatan tersebut akhirnya ditutup dengan semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus menjaga kerukunan.

Di Sidoarjo, keberagaman adalah kenyataan yang hidup setiap hari. Dan ketika perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan dirawat melalui dialog dan persaudaraan, maka keberagaman dapat menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *