baratapersada.com
Mojokerto// Suasana penuh sukacita, kebersamaan, dan kasih mewarnai kegiatan Retreat keluarga besar GIA Mojosari yang digelar di Rumah Kebun Trawas, Mojokerto. Mengusung tema “Kerinduan Hati Bapa”, retreat ini menjadi momentum bagi seluruh keluarga besar GIA Mojosari untuk mempererat persaudaraan sekaligus semakin memahami arti pelayanan dalam kehidupan umat Kristiani.
Retreat tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan untuk berkumpul dan menikmati suasana kebersamaan. Lebih dari itu, seluruh peserta diajak untuk belajar melayani, saling menguatkan, menyelesaikan setiap tantangan bersama, serta membangun semangat sebagai satu keluarga dan satu tubuh di dalam Kristus.
Dalam kegiatan tersebut, keluarga besar GIA Mojosari dibagi menjadi empat kelompok, yakni Kelompok Merah, Kelompok Putih, Kelompok Hijau, dan Kelompok Hitam. Pembagian kelompok melibatkan berbagai unsur jemaat, mulai dari Lansia, Dewasa Pria, Dewasa Wanita, PRBK, hingga Anak SM.
Pembagian kelompok tersebut bukan dimaksudkan untuk menambah beban bagi peserta. Sebaliknya, pembagian kelompok menjadi sarana untuk melatih setiap anggota agar semakin mampu saling mengasihi, saling mendukung, berkoordinasi, dan belajar bekerja bersama sebagai satu tubuh Kristus.
Semangat yang dibangun dalam retreat ini adalah bahwa setiap orang memiliki peran dan kesempatan untuk melayani. Tidak ada yang hanya menjadi penonton, karena seluruh keluarga besar GIA Mojosari diajak untuk mengambil bagian dalam setiap rangkaian kegiatan.
“Semua ikut melayani, semua ikut diberkati,” menjadi semangat yang terasa kuat sepanjang pelaksanaan retreat.

Tujuan utama Retreat keluarga besar GIA Mojosari bukan hanya menyelesaikan berbagai tugas atau rangkaian kegiatan yang telah disiapkan. Namun, jauh lebih penting adalah membangun hati yang mau melayani dengan kasih.
Setiap peserta diajak untuk belajar menghadapi tantangan bersama, saling membantu, serta memastikan tidak ada seorang pun yang kehilangan kesempatan untuk merasakan sukacita, kebersamaan, dan pemulihan dari Tuhan.
Melalui retreat tersebut, keluarga besar GIA Mojosari kembali diingatkan bahwa kehidupan dalam Kristus bukanlah tentang siapa yang paling banyak menerima pelayanan, melainkan tentang bagaimana setiap orang bersedia membuka hati dan mengambil bagian untuk melayani sesamanya.
“Kita datang bukan hanya untuk dilayani, tetapi juga untuk belajar saling melayani.”
Pesan tersebut menjadi salah satu nilai penting yang ingin ditanamkan melalui kegiatan retreat. Sebab ketika setiap orang bersedia melayani dengan kasih, perbedaan usia, latar belakang, maupun kelompok bukan lagi menjadi penghalang. Justru perbedaan tersebut menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan.
Retreat GIA Mojosari ini diketuai oleh Daniel Utama, Koordinator Musik Yudi Suswanto dari majelis gereja dan Manahem Lazuardi gembala konzulen
Dalam kesempatan tersebut, Dr.dr. Andre Yulius, M.Pd., MH, yang juga merupakan majelis gereja GIA Mojosari, menyampaikan bahwa retreat menjadi momentum penting untuk memperkuat kebersamaan dan pelayanan di tengah keluarga besar gereja.
Menurutnya, kebersamaan tidak cukup hanya dibangun melalui pertemuan rutin, tetapi juga membutuhkan hati yang mau terbuka untuk saling mengenal, membantu, menguatkan, dan berjalan bersama dalam kasih.
“Retreat ini menjadi kesempatan bagi kita untuk belajar bahwa pelayanan bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah tugas. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa melayani dengan kasih, saling mendukung, dan menjadi berkat bagi sesama. Ketika kita berjalan bersama, tantangan yang berat pun dapat kita hadapi bersama,” ujar Dr.dr. Andre Yulius.

Sementara itu, Yosie Iriyanti, AMD majelis gereja, juga menyampaikan bahwa kebersamaan dalam retreat menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi seluruh keluarga besar GIA Mojosari.
Ia menilai, suasana retreat memberikan ruang bagi setiap peserta untuk semakin dekat satu sama lain, membangun komunikasi, serta merasakan sukacita dalam kebersamaan.
“Yang kita bangun bukan hanya kebersamaan dalam sebuah kegiatan, tetapi juga kebersamaan dalam kasih. Kita belajar saling memperhatikan, saling membantu, dan memberikan ruang bagi setiap orang untuk merasakan sukacita serta pemulihan dari Tuhan,” ungkap Yosie.
Retreat dengan tema “Kerinduan Hati Bapa” tersebut pada akhirnya menjadi perjalanan rohani sekaligus perjalanan kebersamaan bagi keluarga besar GIA Mojosari.
Dari Rumah Kebun Trawas, seluruh peserta diharapkan tidak hanya membawa pulang kenangan tentang kebersamaan, tetapi juga membawa hati yang semakin dipenuhi kasih, semangat pelayanan, dan kerinduan untuk terus menjadi berkat bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.
Sebab ketika semua berjalan bersama dalam kasih, pelayanan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi sukacita.
Satu tubuh, satu keluarga, satu kasih. Mari melayani bersama, menikmati retreat bersama, dan pulang dengan hati yang dipulihkan Tuhan.





