Dari keresahan rakyat hingga gerakan lintas organisasi, KOBAR menyatakan siap mengawal perjuangan Dokter Andre Yulius dan mendorong lahirnya estafet kepemimpinan baru di Sidoarjo
baratapersada.com
Sidoarjo // Ada kalanya sebuah gerakan lahir bukan karena ambisi mengejar kekuasaan, tetapi karena kegelisahan melihat persoalan rakyat yang tak kunjung selesai.
Dari keresahan itulah Koalisi Besar Perjuangan Pemuda Sidoarjo (KOBAR) menyatakan sikap politiknya melalui “Manifesto 7 Oktober”.
Manifesto tersebut menjadi penegasan terbuka bahwa KOBAR mendaulat Dokter Andre Yulius sebagai figur yang akan mereka kawal dalam perjuangan politik dan sosial menuju masa depan Sidoarjo.
Bagi KOBAR, persoalan Sidoarjo tidak boleh hanya dibicarakan dari balik meja.
Rakyat membutuhkan pemimpin yang mau melihat langsung kehidupan mereka, mendengar keluhan pelaku UMKM yang berjuang mempertahankan usaha, masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan, pekerja yang menghadapi persoalan kehidupan, serta generasi muda yang membutuhkan masa depan.
Karena itu, Manifesto 7 Oktober tidak berhenti pada kalimat dukungan.
KOBAR menyatakan siap membersamai perjuangan Dokter Andre dalam berbagai aktivitas yang menyentuh kepentingan masyarakat, termasuk pemberdayaan UMKM, kesehatan rakyat dan kegiatan sosial.
Salah satu Presidium KOBAR, Abdullah Amas, menegaskan bahwa terdapat tiga garis utama dalam manifesto tersebut.
Pertama, KOBAR menyatakan akan mengikuti arahan dan perjuangan Dokter Andre Yulius dalam dinamika politik mendatang, baik pada kontestasi Pilkada maupun Pileg.
Kedua, KOBAR berkomitmen untuk hadir bersama Dokter Andre dalam perjuangan membantu masyarakat, terutama menyangkut UMKM, kesehatan dan berbagai persoalan sosial.
Sedangkan poin ketiga menjadi pesan politik paling tegas.
KOBAR menyatakan siap menggelorakan semangat untuk merebut estafet kepemimpinan Sidoarjo di tingkat eksekutif maupun legislatif, baik dengan mendukung Dokter Andre maupun figur lain yang dianggap memiliki semangat perjuangan yang sejalan.
“Bersama Dokter Andre siap setiap saat menggelorakan semangat siap merebut estafet kepemimpinan di eksekutif maupun legislatif dengan memilih figur Dokter Andre atau juga senafas dengan Dokter Andre,” tegas Amas.
Ketika Rakyat Tidak Ingin Lagi Hanya Menjadi Penonton
Manifesto tersebut membawa pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar deklarasi politik.
Ada keinginan agar masyarakat tidak lagi hanya menjadi penonton setiap kali pesta demokrasi datang.
Selama bertahun-tahun, masyarakat memilih pemimpin dengan harapan kehidupan mereka menjadi lebih baik. Namun setelah pesta politik berakhir, sebagian rakyat kembali berhadapan dengan persoalan yang sama: biaya hidup, lapangan pekerjaan, kesehatan, pendidikan, UMKM, hingga masa depan anak-anak mereka.
Karena itu, bagi KOBAR, politik harus dikembalikan kepada hakikatnya: pelayanan kepada rakyat.
Kekuasaan bukan tujuan akhir.
Kekuasaan harus menjadi alat untuk memberikan manfaat.
Pesan inilah yang kemudian menjadi ruh dari Manifesto 7 Oktober.
Dari Pemuda, Pekerja hingga Mahasiswa Bersatu
Gerakan KOBAR juga tidak berdiri sendirian.
Sejumlah organisasi dan elemen masyarakat disebut bergabung, di antaranya DPD Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) Kabupaten Sidoarjo, BIMA (Barisan Insan Muda) DPD Sidoarjo, Gerakan Perjuangan Pekerja Kependidikan (GPPK) DPD Kabupaten Sidoarjo, DPD Amanat Kejujuran Untuk Rakyat Indonesia (AKURAT) Kabupaten Sidoarjo, DPD Jejaring Jurnalis–Partai Syarikat Islam Indonesia (JJ-PSII) Kabupaten Sidoarjo, DPD Aliansi Pemuda Nasional (APN) Kabupaten Sidoarjo, serta Federasi Mahasiswa Muslimin Indonesia (FEMMI) Cabang Kabupaten Sidoarjo.
Mereka datang dari latar yang berbeda.
Namun memiliki satu titik temu: keinginan agar masa depan Sidoarjo tidak hanya ditentukan oleh segelintir orang.
Keterlibatan pemuda, pekerja kependidikan, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan dan berbagai elemen lainnya menunjukkan adanya upaya membangun kekuatan masyarakat yang lebih luas.
Dokter Andre dan Harapan Baru
Di tengah konsolidasi tersebut, sosok Dokter Andre Yulius ditempatkan KOBAR sebagai figur yang akan dikawal.
Bukan semata karena profesinya sebagai dokter.
Tetapi karena KOBAR melihat ruang perjuangan yang lebih luas: bagaimana persoalan kesehatan, ekonomi rakyat, UMKM dan kehidupan sosial dapat menjadi bagian dari agenda kepemimpinan.
Manifesto 7 Oktober akhirnya menjadi pesan terbuka kepada masyarakat Sidoarjo bahwa sebuah gerakan sedang dibangun.
Apakah gerakan tersebut mampu menjadi kekuatan politik nyata, tentu waktu yang akan menjawab.
Namun satu hal sudah jelas.
KOBAR tidak ingin rakyat hanya datang ke bilik suara, mencoblos, lalu kembali dilupakan.
Mereka ingin masyarakat memiliki ruang untuk ikut menentukan arah masa depan daerahnya.
Sebab Sidoarjo bukan sekadar peta, gedung pemerintahan atau angka pertumbuhan ekonomi.
Sidoarjo adalah rumah jutaan harapan.
Di dalamnya ada pedagang kecil yang setiap pagi membuka lapak dengan harapan dagangannya laku. Ada buruh yang bekerja demi dapur keluarganya tetap mengepul. Ada orang tua yang ingin anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Ada warga yang berharap ketika sakit, negara hadir memberi pelayanan kesehatan yang layak.
Dan ada anak-anak muda yang tidak ingin masa depannya habis hanya sebagai penonton.
Karena itulah Manifesto 7 Oktober menjadi penting untuk dicermati.
Bukan semata karena nama Dokter Andre yang disebut di dalamnya.
Tetapi karena di balik deklarasi tersebut terdapat pesan sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat:
kepemimpinan pada akhirnya harus kembali kepada rakyat.
Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling cepat mendeklarasikan diri.
Pertanyaannya adalah siapa yang benar-benar mampu hadir ketika rakyat membutuhkan, siapa yang mau mendengar ketika rakyat mengeluh, dan siapa yang bersedia bekerja ketika rakyat kehilangan harapan.
Dari situlah sejarah kepemimpinan baru seharusnya dimulai.
Dan KOBAR telah memilih 7 Oktober sebagai titik awal untuk menyalakan kembali harapan itu di Bumi Delta.
Jurnalis: wapimred






