Beranda / Daerah / PKB Sidoarjo Buka Kartu Menuju 2029: Target 22 Kursi, Bidik Kursi Bupati dengan Kader Sendiri

PKB Sidoarjo Buka Kartu Menuju 2029: Target 22 Kursi, Bidik Kursi Bupati dengan Kader Sendiri

Pengurus baru didominasi generasi muda, PKB Sidoarjo memasang target agresif: 18 hingga 22 kursi DPRD serta kemenangan Pilkada dengan kader murni PKB.

baratapersada.com

Sidoarjo //. Peta pertarungan politik Sidoarjo menuju 2029 mulai memanas. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Sidoarjo tak lagi bermain dalam bahasa politik yang samar. Dalam pengukuhan pengurus DPC dan DPAC PKB periode 2026–2031, partai berlambang bola dunia itu terang-terangan membuka target besar: mendongkrak 15 kursi DPRD menjadi 18 bahkan 22 kursi, sekaligus merebut kepemimpinan Sidoarjo dengan mengusung kader murni PKB.

Pesan tersebut disampaikan Ketua DPC PKB Sidoarjo H. Rizza Ali Faizin di hadapan jajaran pengurus, kader, serta elemen Nahdlatul Ulama (NU) dalam acara pengukuhan yang berlangsung di Sun Hotel Sidoarjo, Minggu (4/10/2026) malam.

Bagi PKB, momentum ini bukan sekadar seremoni pergantian atau pengukuhan struktur. Ini merupakan deklarasi kesiapan mesin politik menghadapi kontestasi berikutnya.

Mengusung semangat “Grand Jumping”, Rizza menegaskan PKB Sidoarjo akan melakukan konsolidasi secara berlapis hingga tingkat kecamatan.

“Ini adalah langkah awal persiapan tempur menuju Pileg dan Pilkada. Dengan modal lebih dari 200 ribu suara pada Pemilu 2024 lalu, kita siap melipatgandakan kemenangan,” tegas Rizza.

Bahkan, PKB Sidoarjo menyatakan tidak gentar dengan kapan pun Pemilu digelar.

“Baik tahun 2029 maupun 2031, kader dan kekuatan struktur PKB Sidoarjo siap bertarung dan menang,” ujarnya.

Dari 15 Kursi, PKB Mengincar 22

Target PKB Sidoarjo periode ini terbilang agresif. Perolehan 15 kursi DPRD Sidoarjo yang dimiliki saat ini tidak lagi dianggap sebagai titik nyaman.

Partai tersebut memasang target minimal 18 kursi, dengan sasaran maksimal 22 kursi DPRD Sidoarjo.

Angka itu bukan sekadar target administratif. Jika berhasil direalisasikan, kekuatan politik PKB di parlemen Sidoarjo akan semakin menentukan arah pembentukan kebijakan daerah.

Namun, ambisi PKB tidak berhenti di gedung DPRD.

Kursi eksekutif juga dibidik.

Rizza menegaskan salah satu target utama kepengurusan 2026–2031 adalah memenangkan Pilkada Sidoarjo dengan mengusung kader murni PKB.

Artinya, PKB mulai menyiapkan diri bukan hanya sebagai partai dengan kekuatan legislatif besar, tetapi juga sebagai kekuatan politik yang ingin menentukan langsung siapa yang memimpin Sidoarjo.

Tiga Proyek Besar Rizza

Untuk mengejar target tersebut, Rizza membeberkan tiga agenda strategis.

Pertama, membangun Graha Kebangsaan, kantor baru DPC PKB Sidoarjo di kawasan Blurukidul, tepat di depan Gedung Rahmatul Ummah.

Rencananya, peletakan batu pertama akan dilakukan langsung oleh Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin).

Kedua, lonjakan kursi DPRD Sidoarjo dari 15 menuju 18 bahkan 22 kursi.

Ketiga, memenangkan Pilkada Sidoarjo dengan kader sendiri.

Tiga agenda tersebut memperlihatkan arah politik PKB Sidoarjo semakin jelas: memperkuat rumah partai, memperbesar kekuatan parlemen, kemudian merebut kekuasaan eksekutif.

Wajah Lama Mulai Didorong, Generasi Muda Disiapkan

PKB juga melakukan perubahan komposisi struktur secara signifikan.

Sekitar 60 persen pengurus berasal dari kalangan milenial, sedangkan keterwakilan perempuan mencapai 30 persen.

Di tingkat DPAC, hasil Musancab di 18 kecamatan bahkan mencatat sekitar 70 persen posisi diisi kalangan muda, termasuk wajah-wajah baru dari lingkungan NU.

Komposisi ini menunjukkan bahwa PKB tidak ingin sekadar mengandalkan mesin politik lama.

Regenerasi mulai dijadikan senjata.

Anak-anak muda ditempatkan dalam struktur dengan harapan mampu menggerakkan basis pemilih yang semakin dinamis menjelang kontestasi politik berikutnya.

15 Anggota Fraksi, 15 Karakter

Di tengah konsolidasi tersebut, Rizza juga memetakan kekuatan 15 anggota Fraksi PKB DPRD Sidoarjo.

M. Dhamroni Chudlori disebut sebagai figur responsif dan agresif dalam memperjuangkan hak masyarakat. Abdillah Nasih dikenal sebagai ahli strategi dalam pengambilan keputusan.

Ainur Jariyah diposisikan sebagai “Ibu Kabupaten Sidoarjo” sekaligus Ketua PC Muslimat NU. H. Usman dikenal dengan gaya kerja cepat “sat set wat wet”.

Ahmad Muzayyin tampil sebagai Ketua Fraksi yang tegas dan berwibawa, sedangkan Sulamul Hadi Nurmawan dikenal memiliki kekuatan lobi serta komunikasi politik.

Ada H. Atok Ashari yang dikenal sederhana dan bloko suto, H. Rojik yang aktif bergerak di lapangan, Abud Asyrofi yang dikenal humble, serta Hj. Elok Suciati sebagai Srikandi petarung.

M. Rafi Wibisono disebut sebagai anggota termuda sekaligus Ketua KONI Sidoarjo. H. Pujiono konsisten menjalankan agenda “Jumat Fraksi”, Sutadji dikenal kalem, sementara Saifuddin Affandi disebut sebagai figur penyeimbang sekaligus ustadz di lingkungan DPRD.

Dengan konfigurasi tersebut, PKB ingin menunjukkan bahwa kekuatan fraksinya tidak hanya bertumpu pada satu karakter politik.

PKB–NU: Mesin Politik dan Khidmah Umat

Di sisi lain, PKB kembali menegaskan kedekatan historis dan ideologis dengan NU.

Rizza menyatakan hubungan tersebut akan terus diperkuat. Bahkan, PKB berkomitmen menyemarakkan Hari Santri dengan kegiatan yang lebih besar dibanding tahun sebelumnya.

Wakil Ketua DPW PKB Jawa Timur Anik Maslacha menegaskan PKB tidak boleh berhenti pada politik perebutan kekuasaan.

“PKB hadir bukan sekadar untuk kepentingan politik kekuasaan semata. PKB hadir untuk menghadirkan politik santun, berbudaya serta membawa kemaslahatan bagi umat,” katanya.

“PKB hadir bukan sekadar untuk kepentingan politik kekuasaan semata. PKB hadir untuk menghadirkan politik santun, berbudaya serta membawa kemaslahatan bagi umat,” katanya.

Ketua DPW PKB Jawa Timur Abdul Halim Iskandar (Gus Halim) menegaskan hubungan PKB dan NU memiliki akar historis dan ideologis yang kuat.

“Historis dan ideologis PKB adalah NU. Politiknya sama, yaitu Rahmatan Lil ‘Alamin. Kewajiban PKB adalah berkhidmat dan mencari kemaslahatan bagi NU dan masyarakat,” tegas Gus Halim.

Sementara Ketua PCNU Sidoarjo KH M. Zainal Abidin mengapresiasi hubungan yang terjalin antara PKB dan NU.

Menurutnya, pelayanan umat yang menjadi prioritas NU memiliki irisan kuat dengan perjuangan kebijakan publik yang dikawal PKB.

“Sebagai wadah yang melahirkan PKB, sinergi antara PCNU, MWC NU, Muslimat dan Fatayat bersama PKB akan mempermudah terwujudnya kemakmuran di Sidoarjo,” ujarnya.

Zainal juga menekankan pentingnya tradisi silaturahmi dan sowan kepada Syuriah serta para kiai yang dilakukan secara rutin, bukan hanya ketika menjelang Pileg.

Pertarungan 2029 Mulai Ditarik ke Depan

Pengukuhan DPC dan DPAC PKB Sidoarjo periode 2026–2031 akhirnya membawa satu pesan politik yang sulit diabaikan.

PKB sedang menaikkan taruhan.

15 kursi dianggap belum cukup. Target dinaikkan menjadi 18 bahkan 22 kursi.

Kekuatan legislatif belum dianggap cukup. Kursi kepemimpinan daerah juga mulai dibidik.

Generasi muda mulai didorong masuk ke struktur. Keterwakilan perempuan diperbesar. Konsolidasi dengan NU terus diperkuat.

Dengan modal lebih dari 200 ribu suara Pemilu 2024, PKB Sidoarjo kini memasuki fase baru: bukan sekadar mempertahankan dominasi, tetapi berupaya memperbesar kekuasaan politiknya.

Pertanyaannya tinggal satu: mampukah Grand Jumping PKB Sidoarjo mengubah target 22 kursi dan ambisi merebut kursi kepala daerah menjadi kenyataan pada pertarungan politik berikutnya?

Jawabannya akan ditentukan bukan di atas panggung pengukuhan, tetapi di lapangan, ketika mesin politik benar-benar berhadapan dengan suara rakyat.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *